Politik Sekitar Istana “Mengerikan”

Sekjen PENA 98, Adian Napitupulu mengatakan, politik di sekitar Istana memang mengerikan. Ada penjilat, ada para munafik, ada pembisik informasi palsu, ada yang diam-diam tapi pengkhianat.

Ada yang manggut-manggut tapi menikam dari belakang, ada mata-mata, agen rahasia, ada yang mengancam dengan kata, ada yang dengan senjata. Si jahat berkerja di dunia nyata hingga maya. Di Istana ada ribuan kepentingan yang bekerja dengan jutaan cara.

Menurut Anggota DPR dari Fraksi PDI-P ini, Jokowi si tukang mebel itu sekarang sedang berhadapan dengan konspirasi tak tampak mata, konspirasi yang bisa lebih silent dari freemason, bisa lebih jahat dari Nazi. Konspirasi tanpa bentuk, tak beraroma, tak diakui tapi ada dan bekerja.

Di luar sana ada banyak aktivis mahasiswa yang bahkan melawan dosen pun tak punya nyali. Ada banyak tokoh yang takut bahkan pada istri sendiri, ada banyak pengamat yang kalah pada birahi. Dan kini mereka semua berlomba menghakimi Jokowi seolah mereka yang paling berani.

Dalam kegalauannya, Jokowi, si kurus itu mengutip dari sastrawan dan budayawan Pramoedya Ananta Toer dan menegaskan sikap serta pendiriannya bahwa sebagai Presiden ia menghormati semua lembaga, setiap orang, tapi sebagai Presiden dia tak bisa diintimidasi siapapun!

Adian menjelaskan, si kurus tukang mebel itu seolah ingin berkata “silakan bicara, silakan berpendapat, silakan beri data dan masukan, silakan ancam, silakan teror, silakan marah tapi saya yang akan memutuskan… Karena saya adalah Presiden!”

Presiden Joko Widodo menuliskan pesan yang cukup tegas dalam fan page facebooknya.

“Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya, yaitu keberanian. Kalau tidak punya itu, lantas apa harga hidup kita ini?.”

sumber : beritasatu