Kepemimpinan Revolusioner

Setelah pilpres, muncul babak baru fase perjuangan berikutnya. Babak baru ini sejatinya jauh lebih berat karena presiden dan wakil presiden terpilih harus mampu metransformasikan kepemimpinan sesuai yang dibutuhkan rakyat saat ini.

Melihat kompleksitas persoalan dan problem kebangsaan, menjadi nakhoda dari “kapal Indonesia” tentu tidaklah mudah. Perlu kerja keras dengan penuh kesungguhan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara hebat. Salah satunya, sang presiden terpilih harus mampu mengejawantahkan yang disebut kepemimpinan revolusioner.

Kepemimpinan revolusioner berwatak membangun dan sarat kebaruan. Kepemimpinan revolusioner mampu memberikan konsep-konsep penyelesaikan masalah, sekaligus dapat menyingsingkan lengan baju tanpa menghitung untung rugi untuk pribadinya demi kesejahteraan rakyat luas. Kepemimpinan model ini sangat cocok dipraktikkan oleh Jokowi yang sebelumnya telah mencetuskan revolusi mental. Kenapa revolusi?

Perubahan Cepat
Istilah revolusi sangat tepat karena di dalamnya mengandung spirit perubahan cepat dan mendasar. Istilah revolusi bahkan pernah dipakai sang proklamator, Soekarno. Saat itu, karena republik baru saja siuman dari penjajahan, Bung Karno membangun Indonesia dengan cara-cara yang revolusioner.

Untuk membangkitkan semangat dan optimisme bangsa Indonesia, Bung Karno membangun simbol-simbol kekuatan negara, seperti Monumen Nasional (Monas), Gelora Bung Karno (GBK), Masjid Istiqlal, dan berbagai bangunan mercusuar lainnya.

Bung Karno sadar, dalam kondisi negara baru merdeka, hal mendasar yang dibutuhkan rakyat—selain pangan—adalah kepercayaan diri sebagai bangsa merdeka. Dengan orasi yang menggelegar dan membangun simbol-simbol negara, Bung Karno ingin membangkitkan kembali semangat manusia Indonesia yang selama ratusan tahun menjadi budak asing. Belajar dari Bung Karno, kepemimpinan revolusioner ala Jokowi juga penting dipraktikkan saat ini.

Tentu dalam praktiknya, kepemimpinan revolusioner ala Bung Karno dan Jokowi secara substansi sama, namun berpenampakan berbeda. Jika revolusi Bung Karno lebih berbau fisik, revolusi Jokowi lebih kepada mental. Ini senada dengan ungkapan Bung Karno, “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu jauh akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Ungkapan tersebut tentu benar karena musuh terbesar kita saat ini justru mental korup elite politik. Meruyaknya praktik suap, korupsi, dan penyalahgunaan wewenang yang dilakukan beberapa elite politik kita belakangan adalah musuh besar yang bisa membuat bangsa ini ambruk. Musuh semacam ini tentu jauh lebih sulit dibasmi karena tidak kasat mata. Itulah alasan gagasan revolusi ala Jokowi bukanlah revolusi fisik, melainkan mental.

Praktik Revolusi
Praktik kepemimpinan revolusioner ala Jokowi ini bisa ditunjukkan dengan cara mewujudkan agenda-agenda yang dianggap berkebaruan, sebagaimana janji kampanye saat pilpres kemarin. Pertama, mewujudkan zaken kabinet. Kabinet yang profesional dan ahli (zaken) menjadi kebutuhan vital dalam kepemimpinan saat ini. Jika pasangan Jokowi-JK mampu mewujudkan kabinet model itu, satu langkah mewujudkan kepemimpinan revolusioner sesungguhnya telah dilakukan.

Kedua, banyak bekerja daripada bicara. Salah satu model kepemimpinan revolusioner biasanya lebih menitikberatkan aspek kerja ketimbang retorika. Jika pasangan Jokowi-JK bisa melakukannya, hal tersebut juga bisa dibilang langkah revolusioner karena dapat menjadi antitesis dari model kepemimpinan sebelumnya yang lebih banyak beretorika.

Ketiga, melaksanakan mandat rakyat. Tentu karena seorang presiden dipilih langsung oleh rakyat, seyogianya kepemimpinan yang dijalankannya dalam rangka menjalankan mandat rakyat, bukan mandat partai.

Keempat, mampu melakukan perubahan dalam waktu cepat. Ciri kepemimpinan revolusioner yang melekat adalah persoalan perubahan. Di sini, perubahan yang dimaksud tentu tidak sekadar perubahan, namun harus cepat dan tepat. Tentu tantangan pasangan Jokowi-JK ke depan adalah bagaimana mampu menciptakan gebrakan-gebrakan genuine untuk perbaikan bangsa.

Kepemimpinan revolusioner itu bukanlah kepemimpinan reaksioner. Kepemimpinan revolusioner adalah kepemimpinan yang berwatak solutif, mampu melihat akar persoalan untuk kemudian dicari solusinya.

Kepemimpinan revolusioner merupakan kepemimpinan yang mampu mengawinkan “angan” dan “tangan”. Karena sesungguhnya, aspek mendasar dalam kepemimpinan mencakup dua hal, visionary role dan implementation role.

Artinya, seorang pemimpin tidak hanya dituntut menciptakan visi atau gagasan segar untuk bangsa, tapi juga harus mampu mengimplementasikan visi dan gagasan tersebut di lapangan. Itulah ciri mendasar kepemiminan revolusioner yang harus dipraktikkan Jokowi-JK. Semoga.

sumber shnews