50,2% Pemilih Tak Mau Pilih Partai Korup

Peneliti Center for Strategic and International Studies (CSIS), Philips Vermonte mengatakan, korupsi menjadi indikator yang membuat pemilih bisa mengubah pilihannya pemilu presiden (pilpres) 2014 mendatang.

“Ketika ditanya jika Anda sudah punya figur pilihan, hal apa yang akan membuat Anda mengubah pilihan tersebut? Faktor korupsi merupakan pilihan tertinggi dari jawaban responden,” ujarnya dalam rilis survei CSIS ‘Di Tengah Efek Jokowi: Pemilih yang Masih Ragu dan Kontestasi yang Masih Belum Selesai,” di Kantor CSIS, Jakarta Pusat, Senin (31/3).

Dipaparkan, faktor korupsi menduduki tingkat tertinggi dengan perolehan angka 50,2 persen, kemudian 12,8 persen karena pasangannya tidak pas, dan 8,6 persen yang menyatakan karena calon yang memberi hadiah atau uang. Kemudian 8 persen karena sejarah buruk seperti HAM atau hukum dan 6,8 persen karena partai yang mengusung.

Temuan lain juga menyatakan 45,8 persen pemilih masih belum pasti dengan pilihan parpolnya pada pemilu legisltaif (pileg) 2014 mendatang. Sementara 42,4 persen pemilih menyatakan sudah pasti dengan pilihannya dan 11,8 persen menyatakan tidak tahu.

Philips menambahkan, dengan temuan tersebut artinya kontestasi politik baik untuk pileg ataupun pilpres relatif masi ketat berlangsung, terutama karena kurang lebih separuh dari responden menyatakan bahwa pilihan mereka masih bisa berubah.

Sedangkan terkait elektabilitas partai, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) menjadi partai yang tingkat elektabilitasnya tertinggi yakni dengan angka 20,1 persen disusul Golkar dengan 15,8 persen dan Gerindra 11,3 persen.

Di posisi berikutnya ada Hanura dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan perolehan masing-masing sebesar 6,7 persen. Sementara Partai Demokrat diurutan kelima dengan elektabilitas 5,8 persen.

“Walaupun hasil suvei ini memperlihatkan tingkat dukungan pada PDI-P semakin menguat, para pemilih menyatakan bahwa pilihan mereka masih bisa berubah, artinya kontestasi politik pemilu belum selesai,” tegasnya.

Untuk survei dilakukan dengan metodologi wawancara tatap muka yang dilakukan di 33 provinsi selama 7 hingga 17 Maret 2014 dengan jumlah sampel sebanyak 1200 orang dan margin of error 2,83 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.