Parpol dan Capres Saling Menghina Bisa Dipenjara

Pengamat Politik Said Salahudin menegaskan, kalau kritik oleh parpol atau capres kepada rivalnya dalam masa kampanye merupakan hal yang lumrah.

“Kritik itu adalah cara bagi mereka untuk menunjukan adanya perbedaan mereka dengan parpol dan capres yang lain,” ucapnya kepada Harian Terbit, Jakarta, senin (24/3). Menurutnya, berdasarkan kritik itulah pemilih dapat mengindentifikasi perbedaan-perbedaan diantara parpol atau para capres guna dijadikan sebagai dasar pertimbangan untuk memilih.

“Namun kritik yang disampaikan haruslah disertai dengan data dan fakta,” jelasnya. Bahkan, lanjut Said, sepanjang kritik itu dapat dipertanggungjawabkan maka tidak serta merta bisa dikatakan bahwa parpol atau capres yang melempar kritik tersebut telah melakukan black campaign terhadap pesaing politiknya. “Kritik itu kan ciri negara demokrasi, sehingga tidak boleh dibatasi apalagi dilarang-larang,”ucapnya.

Said juga menambahkan, yang tidak boleh dilakukan itu kalau sudah menghina dan menghasut. Menghina agama, suku, ras, dan golongan dari capres lain atau mengadu domba dan menganjurkan kekerasan kepada masyarakat, itu yang dilarang. “Jika dilakukan, itu termasuk kejahatan Pemilu. Pelakunya bisa dipenjara sampai dengan 2 tahun ditambah denda maksimal Rp 24 juta,” ujarnya.