Masyarakat Jangan Terbelenggu Beras

Kepala Badan Besar Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementrian Pertanian, Rudi Tjahyohutomo mengatakan, rakyat Indonesia dipaksa makan beras karena tidak ada makanan pendamping beras. Hal ini menyebabkan Indonesia terjebak oleh beras sehingga harus mendatangkan beras impor untuk memenuhi kebutuhan.

“Sagu perlu dikembangkan menjadi sumber ketahan pangan. Namun memang harus diakui sulit untuk mengubah budaya makan nasi. Saat ini konsumsi sagu di Indonesia masih rendah yakni 0,41kg perkapita/tahun,” tegas Rudi di Jakarta, Rabu (26/3).

Rudi menambahkan, peningkatan produksi sagu harus terus dilakukan. Ia juga sangat membutuhkan penerapan teknologi processing, sehingga dapat diolah menjadi beras sagu, mie sagu, roti, biskuit, kue, dan makanan ringan terbuat dari sagu.

Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi mengemukakan, makan nasi sudah menjadi budaya bagi Masyarakat. Budaya ini menyebabkan Kebutuhan akan beras nasional semakin meningkat sehingga perlu dilakukan impor beras untuk menutupi kekurangan beras nasional.

Untuk mengurangi ketergantungan akan beras impor, pemerintah harus melihat potensi sumber pangan lainnya, yakni sagu. Pemerintah perlu melakukan pengembangan industrialisasi sagu berbasis inovasi teknologi untuk membangun ketahanan pangan nasional.

“Tanaman sagu bisa memperkuat ketahanan pangan nasional. Pasalnya, di Indonesia terdapat lahan tanaman sagu seluas 1,52 juta hektar atau sekitar 51,3 persen dari lahan tanaman sagu di dunia,” kata Freddy.

Menurut Freddy, pemerintah perlu menetapkan Lahan sagu Abadi (LSA) untuk pengembangan sagu dalam rangka menjamin keberlangsungan produksi sagu secara berkelanjutan. Dengan adanya LSA akan menjamin stabilitas ekosistem hutan dan perkebunan sagu dalam jangka waktu yang panjang.

“Untuk mengalihkan hutan sagu menjadi LSA perlu kordinasi dengan Kementerian Kehutanan. LSA ini juga harus diperkuat dengan dibuatnya peraturan daerah,” kata Freddy.

Freddy optimis apabila sagu dimanfaatkan dan dikembangkan secara benar dengan melibatkan partisipasi masyarakat, maka sagu bisa menjadi tananam industri yang bernilai tambah tinggi bagi kehidupan negara.

“Sagu dapat menjadi ketahanan pangan nasional. Selama ini kita “dipaksa” makan beras (nasi),” ujar Freddy.