Tiket Pesawat Naik Diam-diam?

Kebijakan penerapan biaya tambahan penerbangan atau tuslah tiket pesawat (surcharge) resmi diberlakukan hari ini, Rabu (26/2). Namun, maskapai penerbangan belum otomatis memberlakukan hari ini karena menunggu sosialisasi dari Kementerian Perhubungan.

“Penerapan surcharge sudah bisa dilakukan, karena sesuai prosedur 14 hari setelah diundangkan, beleid dapat diberlakukan. Sosialisasi pun sudah dilakukan beberapa kali. Namun, hari ini lebih diarahkan kepada maskapai untuk mulai berlaku,” kata Direktur Angkutan Udara Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Djoko Murdjatmodjo, yang dihubungi SH di Jakarta, Rabu.

Penerapan tuslah diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 2 Tahun 2014 tentang Besaran Biaya Tambahan Tarif Penumpang Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri. Meski peraturan ini keluar tanggal 10 Februari, baru resmi berlaku setelah 14 hari diundangkan Kementerian Hukum dan HAM (Kemenhukham).

Kemenhukham mengundangkan peraturan ini pada 12 Februari 2014. Djoko memastikan, tuslah tiket hanya berlaku pada tiket baru yang dipesan setelah beleid surcharge resmi berlaku.

Direktur Umum Lion Air, Edward Sirait mengatakan, pihaknya masih akan menunggu pertemuan sosialiasi dengan regulator yang berlangsung hari ini. “Pada prinsipnya, kami siap menerapkan. Namun, kami harus dengarkan dulu sosialisasinya supaya tidak ada salah persepsi dalam penerapannya,” katanya.

Menurutnya, sosialisasi aturan ini terhadap maskapai sangat penting karena harus dipahami secara jelas perhitungannya. “Karena ini nantinya akan melibatkan penumpang dan mitra usaha kami. Intinya, angka surcharge sudah ada di SK (Surat Keputusan). Kami tidak akan mendebatnya lagi, tapi kami mau pastikan dulu mekanisme dan perhitungannya seperti apa,” tutur Edward.

VP Corporate Communications Garuda Indonesia, Pujobroto yang dihubungi terpisah, mengungkapkan hal senada. Pihaknya masih akan menunggu sosialisasi dan draf SK yang akan disampaikan regulator hari ini.

“Setelah SK di tangan, kami akan minta waktu sosialisasi juga kepada publik, khususnya kepada seluruh pelanggan Garuda. Perubahan ini harus disampaikan terlebih dahulu, supaya tidak ada kesalahan dalam penerapannya. Kami akan minta waktu 1-2 hari untuk sosialisasi kepada penumpang,” ujarnya.

Djoko menambahkan, saat ini pihaknya terus menyosialisasikan kepada maskapai. Penerapan tuslah tiket pesawat ini akan selalu dievaluasi karena hanya bersifat sementara.

Besaran Tuslah

Besarnya biaya tambahan dihitung berdasarkan perhitungan sesuai formula yang telah ditetapkan. Jadi, ketentuan tarif tetap sesuai beleid tarif batas atas, yang mengacu pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 26 Tahun 2010 tentang Mekanisme Formulasi Perhitungan dan Penetapan Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri, yang bervariasi berdasarkan jenis pesawat dan jarak tempuh.

Tarif itu lantas ditambah tarif surcharge Rp 60.000 per jam untuk pesawat jet dan Rp 50.000 untuk pesawat turbo propeller, serta pajak penghasilan dan pajak lainnya.

Tiap rute dan waktu tempuh mengalami kenaikan tarif berbeda. Misalnya, untuk jenis pesawat jet sampai dengan 664 km biaya tambahannya Rp 60.000 untuk jam pertama. Lalu, surcharge jam kedua Rp 60.000 dikalikan 0,95, dan jam ketiga dikalikan 0,90.

Sucharge untuk pesawat turbo propeller Rp 50.000 pada jam pertama, dengan rata-rata jarak 348 km. Pada jam kedua, besaran surcharge dikalikan 0,90, dan pada jam ketiga dikalikan 0,85. Semakin jauh jaraknya, semakin besar biaya tambahannya.

Sebagai contoh, dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang ke Bandara Juanda, Surabaya yang jaraknya 778 km akan dikenai biaya tambahan sekitar Rp 67.000. Dari Bandara Soekarno-Hatta ke Bandara Kualanamu, Medan yang jaraknya lebih dari 1.328 km, dikenai biaya tambahan Rp 122.000.

Djoko menegaskan, jika biaya tambahan tarif sudah resmi diundangkan, maskapai penerbangan wajib mencantumkan tambahan biaya itu dalam tiket. “Tapi ini hanya berlaku untuk tiket yang sudah dibayar sebelum aturan ini diberlakukan. Jika sudah dipesan sebelumnya, tidak boleh dikenakan biaya tambahan,” ia menjelaskan.

Kebijakan pemerintah memberlakukan tuslah diatur dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 26 Tahun 2010. Pasal 7 menyebutkan, pemerintah dapat melakukan evaluasi terhadap besaran tarif atau penerapan biaya tuslah atau tambahan (surcharge) apabila harga avtur di atas Rp 10.000 per liter dalam tiga bulan berturut-turut, atau harga nilai tukar rupiah dan harga komponen lainnya yang menyebabkan perubahan total biaya operasi pesawat udara hingga paling sedikit 10 persen dalam tiga bulan berturut-turut.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah. Pada Agustus 2013 rata-rata kurs Rp 10.522, September Rp 11.340, Oktober Rp 11.389, November Rp 11.613, Desember Rp 11.008, dan Januari 2014 nilai rata-rata kurs naik menjadi Rp 12.181.

Harga avtur rata-rata pada Agustus 2013 sebesar Rp 10.786 per liter, September Rp 11.589 per liter, Oktober Rp 12.119 per liter, November Rp 11.995 per liter, Desember Rp 12.546 per liter, dan Januari 2014 Rp 13.082 per liter.

Biaya Operasi

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Asosiasi Maskapai Penerbangan Indonesia (INACA), Tengku Burhanuddin, menganggap kenaikan harga tiket pesawat melalui penerapan tuslah masih belum bisa menutup biaya operasi maskapai. Alasannya, tarif tambahan itu tidak sesuai dengan asumsi kurs dolar dan harga avtur yang menjadi patokan tarif para operator.

“Akibatnya, bisa lebih banyak terjadi penutupan rute penerbangan,” katanya.

Kurs dolar saat ini sudah melampaui Rp 11.000, jauh dari asumsi patokan tarif batas atas sebesar Rp 10.000. Dalam tiga bulan terakhir, harga avtur di beberapa daerah pun naik hingga melampaui Rp 10.000 per liter. “Tetap saja, ketentuan tarif batas atas harus diubah karena kami sudah berdarah-darah,” ujarnya.

Maskapai tetap meminta pemerintah mengubah batas atas tarif penerbangan. Penerapan surcharge atau tuslah hanya bisa meringankan beban untuk sementara waktu.

Tengku menyatakan, melemahnya rupiah dan naiknya harga avtur menyebabkan beban operasi maskapai naik 20-30 persen. Akibatnya, margin laba maskapai, yang rata-rata mencapai 5-10 persen, semakin tergerus.