Krisis Air Minum Landa 1.235 Desa se-Indonesia

Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum mengungkapkan sedikitnya 1.235 desa di Indonesia berstatus rawan air minum.

Direktur Pengembangan Air Minum Ditjen Cipta Karya, Danny Sutjiono mengatakan kondisi tersebut dipicu karena tidak terdapatnya sumber air baku di desa tersebut.

“Kalaupun ada, tapi secara kuantitas tidak dapat memenuhi tingkat kebutuhan air minum masyarakat, letaknya sulit dijangkau atau kualitasnya tidak memenuhi kriteria baku mutu untuk air minum,” katanya Jumat (28/2/2014).

Dia menjelaskan jumlah desa kering dalam kawasan rawan air tersebut berdasarkan data kekeringan desa yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2013 lalu.

Direktorat telah membagi desa kering di kawasan rawan air itu ke dalam tiga prioritas penanganan.

“Jumlah desa kering di kawasan rawan air yang masuk dalam penanganan prioritas pertama ada sebanyak 326 desa. Kemudian prioritas kedua ada 773 desa, dan prioritas penanganan tiga sebanyak 136 desa”.

Danny menuturkan, sesuai dengan instruksi dan arahan presiden, penanganan krisis air di desa rawan air, daerah tandus, dan sulit air harus tuntas pada 2025. Pada tahun itu, cakupan pelayanan air harus mencapai 100%.

Hingga akhir tahun lalu, kondisi cakupan pelayanan air minum nasional baru mencapai 61,83%.