Avanza Rusak oleh Bambu “Mengamuk” dalam Sebuah Ritual di Gowa

MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM- Sebuah mobil jenis Avanza merah maron rusak setelah dihantam oleh bambu yang sedang “mengamuk”, saat sedang diarak oleh puluhan warga dalam acara bambu bulususurang, sebuah ritual hajatan tertentu di halaman Ballalompoa, Desa Jipang, Kecamatan Bontonompo Selatan, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Kamis (22/8/2013) siang.

Daeng Bau, salah seorang saksi mata menjelaskan, awalnya, Avanza yang akan melintas arak-arakan bambu tiba-tiba terhenti di tengah jalan. Saat itu pula mobil tersebut berpapasan dengan arak-arakan bambu. Karena banyaknya warga yang mengerumuni, mobil tersebut sulit mundur ataupun menepi.

Melihat warga kesulitan mengendalikan tiga bambu yang berayun kencang dan tidak terarah itu, membuat sang sopir panik dan ketakutan, tidak lama berselang salah satu bambu itu mengayunkan batangnya ke arah mobil tersebut hingga mengakibatkan kaca bagian depan mobil itu pecah. Warga yang melihat kejadian itu, langsung menyelamatkan sang sopir keluar dari dalam mobilnya.

“Beruntung sopirnya tidak terluka, padahal bambu itu memukul mobilnya cukup kuat hingga kaca bagian depan pecah,” terang Bau.

Bau juga ikut berjalan kaki mengikuti iring-iringan ritual yang berjalan hingga 10 kilometer itu, mengelilingi Desa Jipang. Tidak hanya mobil jadi sasaran amuk bambu, sejumlah warga yang menyaksikan proses ritual itu juga sesekali dikejarnya hingga warga terpaksa berlari menghindari seruduk bambu yang dipegang oleh puluhan pria tersebut.

Bahkan, pemangku adat melarang sejumlah wartawan maupun warga yang ingin mengabadikan acara ritual tersebut. “Tolong matikan kameranya, pemangku adatnya tidak mau diambil gambarnya, biasanya bambunya bertambah mengamuk, bahkan kita dikejarnya,” jelas seorang warga yang telah mengikuti acara ritual itu beberapa kali.

Selain tiga batang bambu yang panjangnya antara lima sampai enam meter, seekor kerbau maupun sesajean berupa ayam, kelapa, dan pisang juga ikut diarak oleh warga sambil diiringi tabuh gendang yang disertai oleh tarian-tarian.

Ritual hajatan yang digelar mulai pagi hingga sore petang itu dihadiri sekitar 4.000 warga Desa Jipang. Ketiga bambu itu baru bisa tenang setelah pemangku adat melakukan ritual terakhir dengan menyembelih kerbau yang dagingnya nanti akan dibagi-bagi kepada warga Desa Jipang.

Salah satu keturunan Karaeng Bangka Jipang, Muhammad Irwan mengatakan, ritual itu baru dilakukan setelah ada warga yang memiliki hajat tertentu.

“Ritual ini tidak bisa dilakukan setahun dua kali, nanti lewat setahun kalau ada yang punya hajat baru kita laksanakan, bahkan dalam dua tahun tidak ada sama sekali hajatan,” ujarnya.

Dia berharap kehadiran acara tradisional itu dapat menumbuhkan nilai-nilai sejarah yang nyaris terlupakan akibat tergerus zaman yang sudah modern.

Editor: Muh. Taufik
Sumber: Kompas.com